Sabtu, 28 Maret 2009

Kondisi Pertelevisian Indonesia Kini

Ketika saya berada di Australia untuk mengikuti pendidikan selama kurang lebih 4 bulan, saya mendapat kesulitan dalam hal “Pengetahuan Umum”. Di sana mata saya terbuka bahwa pengetahuan saya akan hal-hal yang terjadi di dunia ini sangat sangat minim. Saya memiliki beberapa teman dari beberapa negara tetangga termasuk Vietnam. Banyak hal yang saya kagumi dari mereka. Terutama dalam hal pengetahuan umum dan teknologi. Mereka tahu banyak hal. Walaupun dalam kemampuan berbahasa Inggris boleh dibilang kita sebagai orang Indonesia bisa berbangga diri karena tidak kalah dengan mereka, namun ketika membicarakan pengetahuan umum kita kalah jauh, paling tidak itulah yang saya rasakan.

Di sana saya belajar banyak hal. Mencari informasi dari televisi dan internet. Di sanalah saya mengetahui Global Warming (pada waktu itu di Indonesia belum terdengar gaungnya), mengetahui tentang penyakit AIDS dan macam-macam topik lainnya. Setelah kembali ke Indonesia, saya menonton televisi. Saya baru menyadari, sangat sedikit tayangan yang menampilkan berita dunia. Semua penuh dengan berita dalam negeri. Mulai dari politik sampai infotainment. Tayangan film pun hampir semuanya produk lokal. Sinetron, talk show, musik, liputan-liputan mayoritas terjadi dan diproduksi di dalam negeri.

Suatu hari saya chatting dengan teman saya dari Vietnam, layaknya teman lama kami mengobrol mengenai banyak hal. Ketika dia mengajak berbicara tentang berita terkini dunia, saya tidak bisa banyak bicara. Padahal waktu itu topiknya tidak telalu jauh melenceng, yakni tentang pemilihan perdana menteri Australia yang baru. Saya segera mencari-cari berita itu di internet, supaya bisa sedikit menanggapi obrolannya.

Saya kembali mengamati televisi. Ya ampun, di mana saya harus mencari berita itu? Beberapa saluran TV saya pencet bergantian namun tidak juga mendapatkan yang saya inginkan. Pada waktu-waktu biasanya berita ditayangkan, saya segera menonton dengan seksama. Semua berita lokal. Berita dunia hanya sekilas. Hanya kurang dari 20% berita dalam negeri. Berita yang memuat berita dunia pun hanya ada di stasiun televisi tertentu yang notabene-nya adalah stasiun TV berita.

Pikiran saya langsung melayang ke generasi muda negeri ini. Bagaimana mereka mendapatkan berita-berita yang terjadi di dunia ini? TV Kabel? Tidak semua rumah dapat berlangganan TV Kabel. Internet? Tidak semua orang dapat menikmati internet dengan mudah. Saya contohnya, kalau mau menikmati internet di rumah, harus memikirkan biaya lumayan besar yang dikeluarkan tiap bulan. Untungnya di kantor saya tersedia wireless network sehingga saya bisa mengakses internet pada jam kantor. Bagaimana dengan warnet? Tidak semua orang dapat merasa nyaman berlama-lama di warnet. Selain karena faktor kenyamanan, biaya, juga soal waktu. Bagaimana dengan anak-anak sekolah? Akankah mereka ke warnet untuk mencari berita? Mungkin ya, tapi sangat sedikit jumlahnya. Sebagian mereka hanya pasrah menerima berita dari televisi di rumah. Itupun tidak banyak. Karena waktu-waktu penayangan berita semakin sedikit saja. Coba saja lihat tayangan televisi pada saat prime time. Hampir semua menayangkan sinetron kejar tayang. Kalau keadaan terus seperti ini, bagaimana kita dapat bersaing dengan orang luar? Jangankan bersaing, mengobrol saja juga tidak berani.

Selain berita, film dan musik luar negeri juga menghilang dari stasiun televisi kita. Betapa inginnya saya menyaksikan film-film luar yang nuansanya berbeda dengan film dalam negeri. Saya juga ingin sekali mendengar pemain-pemain film itu berbicara dengan bahasa aslinya. Dengan menonton film seperti itu juga dapat melatih pendengaran kita akan suatu bahasa, bahasa Inggris atau Mandarin misalnya. Ada satu atau dua stasiun televisi yang terkadang menayangkan film luar negeri namun sayang sekali, film-film itu semua sudah dialih-bahasakan.

Terkadang ada stasiun televisi yang menayangkan film-fim barat. Namun, jam tayangnya di atas jam 9 malam. Film-film yang ditayangkan pun sudah kadaluwarsa. Ada yang baru pertama kali ditayangkan, ada pula yang sudah berulang kali ditayangkan. Kalau melihat gaya berpakaian dan potongan rambut aktor dan aktris di dalamnya, kita sudah dapat menebak bahwa film itu diproduksi beberapa tahun bahkan mungkin belasan tahun yang lalu.

Kecewa. Itulah yang saya rasakan dengan perkembangan televisi Indonesia sekarang ini. Televisi sebagai sarana yang paling efektif dalam menyampaikan informasi pada masyarakat seharusnya juga bisa menjadi sarana pendidikan. Menghasilkan generasi muda yang berpikiran luas tidak hanya bergantung dari lembaga pendidikan formal maupun informal. Televisi juga dapat memberi masukan sedikit demi sedikit (yang akan menjadi besar nantinya) dalam perkembangan pemikiran generasi muda. Tayangkanlah juga berita-berita dunia sehingga mata masyarakat dapat lebih terbuka, tidak picik. Mengenai film, bukannya tidak cinta produksi dalam negeri, tapi alangkah baiknya kita juga membuka diri dengan menayangkan film-film atau tayangan musik dari luar negeri. Padahal dengan menayangkan produk-produk luar dapat membuat para produsen film dan musik dapat membandingkan selera publik dan menjadi terpacu untuk lebih baik lagi. Di atas langit masih ada langit. Jangan beranggapan semua yang kita hasilkan adalah yang terbaik. Ingat, tidak semua tayangan luar negeri buruk bagi perkembangan generasi muda. Menghalangi informasi bagi mereka justru lebih buruk.



oleh Retno Damayanti

Sabtu, 21 Maret 2009

daSar Lighting

Dasar Lighting

Ada tiga dasar tata cahaya :

Key Light = Cahaya Kunci / sumber Cahaya Utama

Yaitu dimana cahaya yang harus dipossisikan pertama kali. Sifatnya keras. Biasanya diposisikan lebih tinggi dari obyek atau talent dan juga bisa dari samping.

Fill light (= cahaya pengisi

Cahaya yang digunakan sebagai pengisi bagian yang terlihat gelap dan juga berfungsi untuk mengurangi bayangan obyek yang terlalu pekat efek dari key light. Sifatnya lembut.

Back light (= cahaya belakang

Cahaya yang digunakan sebagai pemisah antara subyek dengan background. Back light dapat terlihat ditepian subyek yang tersinari , cahayanya bisa terlihat terang atau jelas dan lebih halus.

Sifat cahaya

Sifat cahaya

Hard Light

Hard Light adalah cahaya yang memiliki sifat keras dan contohnya apa yang kita lihat cahaya matahari saat siang hari.Ini datang langsung dari satu sumber cahaya.Karena berasal dari satu sumber cahaya mk cahaya ini menimbulkan banyak bayangan yang pekat

Soft Light

Soft Light adalah cahaya yang memiliki sifat halus atau lembut. Yang biasanya dapat kita lihat di daerah-daerah pertokoan dengan menggunakan lampupijar atau TL. Dan sifatnya menyebar dan mengurangi bayangan subyek

Cara membuat Soft Light :

1. Memberikan filter di depan cahaya yang keras

2. Memantulkan dengan bantuan reflektor

Hal-hal yang harus dilakukan seorang Lightingman terlebih dahulu :

1. Mengetahui apa saja yang harus dibawa saat akan shooting

2. Mengenal dan memahami alat-alat serta penggunaannya

3. Memahami lokasi shooting

4. Koordinasi dengan DOP

Jumat, 06 Maret 2009

1st time

hwaa .

ne bwt blog..di suru pak noVin
huhu
tingkyuw pak..
jd gag gaptek ne .