Selasa, 16 Juni 2009

DRAMATIK SEBUAH SKENARIO? BAGAIMANA BIKINYA?

Oleh Gola Gong

Kalau kkta menonton sebuah sinetron atau film layar lebar, kadang kita suka terbawa tegang atau berharap-harap cemas, bagaimana kelanjutannya? Coba aja nonton film layar lebar “Scream 1” dan sekuelnya. Pasti jantung kita akan dipacu! Deg-degan juga. Gambar demi gambar disajikan secara berurutan. Ekspresi wajah si pembunuh yang sadis saat menghujamkan pisaunya! Para korban yang meregang nyawa! Semuanya begitu rapih dan terorganisir! Kok, bisa?

DETIL
Iya, ya. Kok, bisa-bisanya begitu, ya! Lihat saja, gambar-gambar berpindah dengan cepat. Dari langkah kaki pembunuh yang mengendap-endap, lalu ke tangannya, ke pisaunya, berpindah ke wajah calon korban yang ketakutan, ke tangannya yang gemetar, terus hanya gambar lorong-lorong yang sepi dengan suara jantung si calon korban yang berdegup kencang atau desah napasnya yang ketakutan, lalu berpindah lagi ke sorot mata si pembunuh yang tajam dan dingin, ke gerak bibirnya yang bengis. Pokoknya, bikin kita nggak bisa beranjak dari kursi! Belum lagi diisi dengan ilustrasi musik yang juga makin menambah ketegangan.

Itu di jenis-jenis film horor! Yang drama keluarga juga bisa seperti itu! Lihat saja sinetron-sinetron itu. Orang tua (terutama ibu) serta para pembantu, dibikin bercucuran air matanya. Dibuat panas-digin menunggu kapan sepasang kekasih itu berakhir happy di kursi pengantin.

Di situlah kita baru “ngeh”, bahwa kekuatan awal memagn di skenario. Ibaratnya itu adalah blue printnya. Sutradara akan sangat terbantu dengan adanya skenario yang baik. Terutama sebuah skenario yang unsur dramatiknya kuat, dimana di dalamnya terkandung banyak kondisi emosional intelektual para tokohnya, seperti rasa sedih, kaget, isak tangis, perasaan cemas, tegang, rasa bangga, dan bahagia. Ini semua harus dengan detil digambarkan di skenario, supaya sutradara bisa menterjemahkannya lewat bahasa gambar. Contoh skenarionya bisa saja seperti ini:

01. INT. SEBUAH RUMAH, KAMAR/RUANG KELUARGA – MALAM – H1
Pemain: Kkorban

Establishing shot: Sebuah rumah di pinggiran kota. Saat hujan lebat. Lampu penerangan byar-pet.

Di dalam rumah. Di kamar atau ruang keluarga. Korban yang baru saja selesai sholat tampak sangat cemas, ketika menyadari lampu penerangan gelap.

SFX:
Suara hujan, angin, dan petir….

Si Korban beregas bangkit, meraba-raba menuju jendela dan menutupnya rapat-rapat. Lalu merayap-rayap mencari korek api dan lilin di laci meja.

SFX:
BRAAAK, bunyi pintu yang tertutup karena angin.

INSERT: Pintu antara ruang keluarga dan dapur tertutup dengan keras, karena angin dari arah luar.

Si Korban berteriak kaget. Lilin yang sudah dinyalakanya terjatuh.

CUT TO

02. EXT. SEBUAH RUMAH, HALAMAN – MALAM – H1
Pemain: Pembunuh


Di halaman, sepasang kaki bersepatu boot menginjak halaman berumput yang basah tersiram hujan. Sepasang kaki itu terus melangkah menuju samping rumah. Ujung jas hujannya menutupi kakinya sampai ke betis. Tangannya memegang pisau yang biasa dipakai untuk memotong ternak. Sorot matanya tajam dan dingin.

Kini tubuh yang dibalut jas hujan denan penutup kepala, yang melindungi sebagan wajahnya, terus berjalan menuju pintu dapur. Dengan ujung gagang pisau, sekali pukul, kaca itu pecah!

SFX:
Suara kaca pecah.

CUT TO

03. INT. SEBUAH RUMAH, KAMAR/RUAGN KELUARGA – MALAM – H1
Pemain: Korban

Wajah korban yang masih bermukena makin cemas. Dia memasang pendengarannya baik. Korek api yang tadinya menyala langsung ditiupnya. Cahaya pun kembali gelap. Dalam kegelapan samar-samaaar terlihat bibir si korban bergerak-gerak berdzikir.

Korban:
(Berdzikir) Siubhanallah, subhanallah, subhanallah…..

Dan seterusnya….

Dari penggalan skenario di atas, sutradara berusaha menuangkannya dalam bentuk-bentuk shot (angle kamera). Dia pasti akan menggali semua kemampuannya, agar adegan di atas ini bisa membuat jantung penonton berdegup kencang. Bisa jadi akan banyak penambahan dari interpretasi si sutradara. Itu sah-sah saja sepanjang tidak merubah maksud dan isi adegan itu. Biasanya sebelum sutradara mengeksekusi skenario tersebut ke dalam shot-shot kameranya, selalu ada pertemuan bedah skenario. Produser, sutradara, penulis, dan tim produksi lainnya (asisten sutradara, penata artistik, kostum, dll) berkumpul membicarakan skenario dari aspek produksinya. Di sanalah mereka saling melempar pendapat, memberi masukan, kritikan, dan apa saja yang tujuannya memperbaiki skenario. Tentu semuanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi, baik itu biaya, kondisi cuaca di lapangan artau lokasi, serta jadwal pemain yang padat. Dari hasil bedah skenario itu biasanya akan menghasilkan kesepakatan, bahwa ada penambahan atau pengurangan skenario. Penulis pun merevisi skenario yang ditulisnya.

SIMBOL
Kalau kita perhatikan sinetron di TV, kadang kita suka menemukan simbol-simbol dari benda-benda (kendaraan, tas, pisau, jam dinding, patung), asesoris yang dipakai para tokoh/pemain (kalung, cincin, anting, sabuk), warna-warna (merah, hitam, putih), lokasi atau tempat (stasiun kereta api, tempat pembuangan sampah, mesjid, Borobudur, sungai, kuburan), dan bunyi-bunyian (lonceng di tengah malam, bunyi kelintingan tukang pijat, klakson kereta dan kapal, giring-giring, bunyi terompet), serta bentuk phisik para tokoh (si bongkok, si pincang, si picak, si muka codet). Dalam wilayah drama lambang-lambang ini bisa juga disebut metaphora.


Sebagai penulis skenario kita sudah harus mahir menampilkan lambang, simbol, atau metaphora ini. Caranya beragam. Pertama, bisa dengan cara pengulangan. Misalnya, si tokoh utama kita tampilkan selalu menggunakan pakaian yang sopan dan peci/kopiah. Kalau kkta perhatikan tokoh “Jaka” dalam sinetron “Jalan Lain Ke Sana” (SCTV) yang berpakaian celana pantalon, kemeja sederhana, serta kopiah atau “Al Bahri” dalam mini seri “Al Bahri (Aku Datang dari Lautan)” (Indika – TV7) yang memakai pakaian, kopiah, gamis serta ransel tentara, secara sepintas sudah terbangun karakter kedua tokoh itu lewat simbol-simbol kebendaan di sekitarnya. Lewat pakaian yang dikenakannya. Kopiah di kepala mereka. Jika itu terus dsitampilkan berulang-ulang secara konsisten, jangan heran kalau suatu saat pakaian mereka akan menjadi trend di kalangan pemirsa muda. Sudah banyak terjadi ‘kan, bagimana pemirsa muda kita meniru potongan rambut. Kalau untuk “bad character”nya, bisa dimunculkan dengan seoragn tokoh yang suka membawa-bawa pisau lipat atau tato. Berkat pengulangan itu, maka para tokoh tersebut akan dengan cepat diterima oleh pemirsa kekhasannya.

Yang kedua, melalui nilai yang diberikan para tokoh. Misalnya dengan kopiah yang dipakai “Al Bahri” dan “Jaka”, itu juga menginformasikan nilai keyakinan agama mereka. Tasbeh yang sering digenggam tokoh Pak Haji, misalnya. Seorang tokoh yang selalu memungut benda-benda tajamdi tengah jalan (misalnya paku, duri, pecahan kaca). Tokoh yang selalu tidak mengambil uang kembalian recehan jika membeli koran, tokoh yang akan trenyuh jika melihat kucing kelaparan, dan tokoh yang selalu memberi recehan sekedarnya kepada pengemis buta. Aktivitas-aktivitas dari para tokoh seperti itu, kelihatan kecil dan terkesan sambil lalu. Tapi, jika si sutradara concern dengan apa yang ditulis oleh penulis, maka itu akan memberikan nilai-nilai yang dalam para para tokoh. Bukan mustahil para tokoh itu akan mewarnai dalam struktur dramatik cerita secara keseluruhan.

Ketiga, simbol-simbol yang membenturkan aktivitas para tokoh dengan tempat atau objek secara paralel. Misalnya, jika kita sedang menggambarkan tokoh seorang ibu yang cerewet, bisa saja ditampilkan lewat gambar seoragn ibu dengan rambut di roll dan wajah berbalut maskara dengan gambar yang lain, yaitu bebrapa ekor ayam betina yang sedang berebut makanan atau sedang ribut berkokok-kokok. Simbol yang tertangkap pada karakter si ibu, adalah seorang waita yang cerewet, sering ngegosip, dan cepat tersinggung (panasan) jika tetangganya baru ketiban rezeki. Di sini peranan editor di ruagn editing bersama sutradara dan penulis sangat penting. Dibutuhkan kerja sama yang kompak saat menghubung-hubungkan gambar-gambar audio visual itu. Jangan sampai terjadi kerancuan, karena nanti bisa amburadul.

Paling buncit, keempat, melaui tekanan visual dan alat musikal. Peran sutradaralah yang menonjol di sini. Penulis sebaiknya juga mencoba menuangkannya dalam skenario. Misalnya lewat visual, sutaradara akan menampilkan para tokoh secara close up pada beberapa bagian penting (phisik; mata, bibir, tangan)). Sedangkan musikal, cobalah sebagai penulis mulai menggali atmosphere (bunyi-bunyian alamiah) dari setiap adegan atau scene yang kita bangun. Misalnya, musik apakah yang cocok saat adegan di pekuburan (apakah bunyi petir atau terompet kematian), di hutan (bunyi cericit burung dan gemuruh air terjun).

Nah, gampang kan? Coba aja latihan.

Siapa takut!

Format Skenario



Format skenario itu seperti apa, sih? Pasti bingung, ya! Memang beda-beda, kok. Untuk yang satu dan setengah jam, jelas beda. Coba aja pelototin. Pasti beda. Belum lagi yang telesinema seperti FTV (film televisi) atau telesinema (televisi sinema – format layar lebar yang di televisikan).

IKLAN
Dalam konsep industri seperti sekarang, di mana kita disodorkan fenomena para praktisi TV bisa dengan mudah meloncat dari satu TV ke TV tetangga, bahkan pergantian menejer serta direktur sudah hal biasa, tayanan sebuah sinetron nggak bisa lepas dari iklan. No iklan, ya no money. No money, ya no rating. No rating, ambruklah TV itu. Ujung-ujungnya memang duit. Dari rating yang sudah dibakukan oleh AC Nielsen (lembaga terpandang made in USA), akan kelihatan kalau sinetron itu bisa menguntungkan atau nggak, karena disukai dan ditonton pemirsa.

Apa kontribusi penulis skenario? Ya, jelas ada. Penting banget. Penulislah yang tahu banget, kapan sebuah adegan dipotong dan digantikan dengan iklan (commercial break), sehingga pemirsa “kesal” dan “kecewa”, lalu tetep stay tune di TV itu, karena nggak mau ketinggalan kelanjutan dari adegan yang terpotong iklan itu. Kalau si pemirsa memindahkan chanel lewat remote controle ke TV lain, celakalah program itu! Biasanya bagian yang dipotong iklan ini disebut cliff hanger (adegan yang dibiarkan menggantung).

BABAK
Sinetron bedurasi 30 menit (kadang bersihnya bisa 22 menit kalau standar, tapi kalau iklannya penuh bisa cuma 18 menit) format skenarionya terbagi 3 babak (act). Masing-masing babak (act) bisa terdiri dari kisar 4 sampai 6 scene (adegan). Kalau ditotal bisa berjumlah sekitar 12 - 18 scene/adegan. Tayangan iklannya ada 3 kali plus 1 kali setelah opening di awal cerita (bisa setelah credite title; nama-nama pemain dan crew produksi). Jumlah halamannya antara 16 – 25 halaman. Idealnya berkisar 20 halaman. Durasi ini biasanya cocok untuk Serial TV seperti “LUV” (RCTI), “Saras 008” (IVM) atau komedi situasi.

Durasi 60 menit sebetulnya isi ceritanya bisa saja 48 – 42 menit. Malah ada yang cuma 38 menit, karena iklannya penuh. Biasanya ini terjadi pada sinetron yang sangat digemari pemirsa dengan episode panjang. Di kita ada “Tersanjung” (IVM) dan “Si Doel Anak Sekolahan” (RCTI). , serta yang akan menyusul “da Apa dengan Cinta” (RCTI), yang sudah ikontrak RCTI sebanyak 1004 episode. Ngggak menutup kemungkinan lho, jika pemirsa remaja suka, episodenya akan diperpanjang.

Skenario 1 jam terdiri dari 5 babak (act). Setiap babaknya terdiri dari 6 – 8 scene/adegan. Kalau ditotal 30 – 40 scene/adegan. Untuk durasi 1 jam ini, kita mesti pandai-pandai membentuk plot/struktur cerita, konflik, misteri, percintaan, drama, persahabatan, komedi, tragedi, dan kejahatan menjadi satu tayangan yang menarik. Kadangkala kehidupan masa lalu para tokoh juga bisa menjadi bumbu-bumbu penyedap untuk dituangkan di skenario. Kalau telesinema bisa mencapai 9 babak/act. Durasinya mencapai 90 menit plus iklan. Isi ceritanya sih bisa 70 menitan.

Sabtu, 30 Mei 2009

Resensi Film "dEfianCe"

“Jews have different way of thinking from the others”
Mr. Delta

agle Eye 1-sht

Film ini bisa dibilang selevel dengan Schindler List, Sound of Music, The Pianist atau Life Is Beautiful. Inti film-film ini sama, yaitu menceritakan kehidupan kaum Yahudi yang bertahan pada saat PD II. Tapi, Defiance bisa dibilang cukup beda. Di film-film sebelumnya mungkin kaum Yahudi digambarkan sebagai pihak yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya menunggu uluran tangan dari mereka yang di atas. Akhirnya, film ini memberikan kita gambaran lain tentang sebuah potret perjuangan kaum Yahudi di Belarusia melawan opresi dan kekejaman Tentara Nazi Jerman.

bileskineich

Bielski Otrad, URA!!

Film ini berjudul “Defiance”, berarti “Pembangkangan” dalam bahasa Indonesia. “Defiance” berkisah tentang kehidupan keluarga Bielski, sebuah keluarga Yahudi, yang terdiri dari 4 orang yaitu Tuvia, Alexander “Zus” , Asael, dan Aron Bielski yang tinggal di daerah Stankiewicze, Belarusia. Mereka berempat harus tinggal di hutan setelah daerah mereka di agresi oleh tentara Nazi Jerman, yang dimana tentara Nazi juga membunuh beberapa saudara terdekat mereka. Di tengah hutan pun, mereka menemukan lagi banyak orang bernasib sama seperti mereka. Diserang, lalu kabur ke tengah hutan.

Dalam perjalanan, mulailah terkumpul banyak orang. Dari jauh di Polandia pun ada. Asal pekerjaannya pun beragam, entah pernah menjadi seorang jurnalis atau seorang violinis. Dalam perjalanan, akhirnya komunitas pengungsi Yahudi ini berkembang besar dan kemudian bekerjasama dengan partisan Tentara Merah yang juga bermarkas di tengah hutan, dipimpin oleh Letnan Viktor.

Film ini juga dibumbui berbagai macam konflik, mulai dari kisah asmara sampai pertentangan antar dua saudara, Tuvia dan Zus, yang berduel tentang masalah kepemimpinan dan komunitas yang mereka bentuk. Di titik inilah, Zus akhirnya meninggalkan Tuvia dan ikut Tentara Merah.

Sebuah kehidupan di tengah hutan

defiance650

Bersama para rabbi di Ghetto Minsk, Tuvia mencoba mengajak masyarakat Yahudi untuk ikut mengungsi

Komunitas Yahudi ini pun terbentuk beberapa hari setelah agresi dan berkembang pesat beberapa minggu setelahnya. Begitu banyak para pengungsi, entah dari Ghetto di kota atau dari desa-desa di penjuru Belorusia sampai Polandia yang kabur ke hutan ini. Mereka membangun sebuah desa sederhana yang kecil, dipimpin oleh Tuvia Bielski.

tuviabielski

Jangan salah lihat!! Ini bukan Stalin, tapi Tuvia Bielski!

Dalam komunitas ini, banyak peran yang muncul. Misal saja, seorang guru sekolah yang kemudian menjadi pemuka agama setempat (rabbi). Sang rabbi ini terlihat sebagai seorang sesepuh, tapi tampak jarang memberikan advice kepada Tuvia (mungkin takut dengan kegarangan Tuvia). Ada juga seorang suster yang menjadi dokter disana. Atau mungkin seorang jurnalis yang terpaksa jadi tukang kayu, walaupun payah, tapi dia sering bertukar pikiran dengan sang rabbi dan menjadi teman baik bagi rabbi.

Filosofi dan budaya orang Yahudi

novogrudek

Sebuah pemukiman Yahudi yang hancur di Belorusia

Film ini juga menggambarkan begitu jelas cara hidup orang Yahudi yang ingin bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Saat musim dingin tiba, saat dimana makanan susah dicari dan didapat, Tuvia menemukan jalan keluarnya. Dia menembaki kudanya begitu saja, dan memberikannya kepada para wanita untuk dimasak, karena sudah beberapa hari para pengungsi tidak makan karena kehabisan suplai.

Atau mungkin pada saat berhadapan dengan rawa-rawa yang begitu dalam, adik Tuvia, Asael mengingatkan para pengungsi tersebut, “Hey kalian semua! Tidakkah kalian ingat bahwa Musa bisa menyebrangi Lautan Merah? Dengan kehebatan Tuhan dia bisa menyebrangkan seluruh umatnya! Kita memang tidak punya nabi! Tapi kita bisa membuat mukjizat kita sendiri dengan kepintaran dan tenaga yang kita punya! Tuhan telah memberikan itu semua untuk kita supaya bertahan!” Apa yang kira-kira para pengungsi Yahudi ini lakukan? Yak, mereka membuat rantai dari sabuk sebagai pegangan untuk mereka agar tidak lepas. Mereka pun sampai di sebuah tanah lapang.

Seperti layaknya Musa dan umatnya sampai di Tanah Yang Dijanjikan.

Film ini juga banyak menggambarkan kebudayaan orang Yahudi. Saat Asael dan Chayyah menikah, digambarkan upacara pernikahan ala Yahudi, yang kurang lebih agak sama dengan upacara pernikahan orang Kristen. Lagu-lagunya pun JEWISH sekali, dengan irama biola dan klarinet yang.. uhh.. coba deh.. anda dengarkan komposisi karangan Itzhak Perlman! Yah… kurang lebih seperti itulah nadanya. Ada yang irama Waltz.. tapi juga ada yang sendu..

Aroma Cinta
Huh.. ini agak saya sebalkan. Cinta di Defiance kurang mantap alurnya, jadi saya anggap cukup mengganggu dan hanya sebagai additional spice untuk film. Lebih mantap lagi kalau ditambahkan unsur battle-nya

Battle!

partisansich

Bielski Otrad patrolling

Di film ini, Battle yang terjadi kebanyakan adalah battle yang aksidental dan frontal, juga ambush karena memaang pengungsi Yahudi yang tergabung dalam Bielski Otrad (Brigade Bielski) ini hanya sekitar 10-100 personel. Tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuat kacau balau barisan pasukan Jerman yang berpatroli. Mereka bahkan sukses menawan sebuah tank saat pertempuran terakhir, saat Tuvia dan Zus bersatu kembali.

kaar

Senjata rifle “Karabiner 98″ inilah yang sering digunakan Nazi dan dirampas oleh Partisan.. sepertinya memang Bielski Otriad juga memakai senjata ini

Pada awalnya, tentara Bielski ini tidak mempunyai senjata apapun. Itupun awal-awal boleh minjem (dan cuma dikasih revolver dengan 4 peluru) sama seorang petani yang agak muka-dua sama Nazi, tapi akhirnya si petani ketauan sering berinteraksi dengan Bielski dan terbunuh. Pasukan Bielski pun semakin mendapatkan banyak senjata setelah melewati berbagai pertempuran dan ambush-ambush kecil di tengah hutan atau sabotase kantor polisi.

Mereka juga hebat dalam taktik gerilya. Yah wajar, mereka udah tau daerah mereka duluan sih.. Jadi mau kemana aja sampe nyasar its okay, malah tentara Nazinya yang nyasar.

Dari Kisah Nyata!
Yak ternyata Defiance pun berasal dari kisah nyata, dan diambil dari Buku berjudul “The Bielski Brothers” karangan Peter Duffy pada tahun 2003.

Disebutkan bahwa Brigade Bielski ikut dalam Operasi Barbarossa, sebuah operasi untuk mempertahankan the “Motherland Soyuz Sovietkikh Sosialitskikh Republitsky” bersama Tentara Merah yang dipimpin oleh Jenderal Viktor Platon (Komandan Tentara Partisan Soviet) dalam Perang Dunia Kedua melawan Nazi dan Tentara Axis (baik? ngga tuh! hahaha).

Apa yang terjadi pada keluarga Bielski setelah perang dunia? Tuvia dan Zus kemudian pergi ke Amerika membangun sebuah bisnis (waah Jewish abis) setelah menetap sebentar di Palestina. Sayang, Asael Bielski sudah gugur saat harus membela Soviet pada tahun 1944. Kemudian pengungsi-pengungsi lainnya pun berdiaspora hingga ke seluruh dunia, sampai beranak cucu, dan melahirkan generasi-generasi penerus mereka.

Bukti Holocaust?
NOT AGAIN!
Film ini memang menunjukkan beberapa bukti dari Jews-cleansing effort oleh Nazi Jerman, tapi tidak disebutkan dalam film ini bahwa 6 juta Yahudi telah dibunuh oleh Nazi di Eropa! Kebohongan besar bagi mereka yang mengatakan hal tersebut, bahkan seorang Noam Chomsky yang Yahudi sekalipun menampik Holocaust!

Pelajaran yang dapat kita ambil
Beberapa pelajaran yang mungkin dapat anda temukan di film Defiance:
1. Keimanan membuat kita kuat.
2. Persahabatan itu penting daripada sekedar harta! Sahabat sejati rela menolong kita saat kita dirundung apapun, amunisi beretta kah, atau utang yang mendera.
3. Keluarga adalah SEGALANYA
4. Berpecah belah membuat segalanya menjadi hancur. Absolutely broken!
5. Hidup merupakan pilihan. Pilihlah yang membawa kebaikan.
6. Kasih sayang membawa keberkatan. Tidak ada salahnya kan berkasih sayang?
7. Toleransi terhadap sesama itu penting. Jangan menurut ego diri!
8. Berbagi terhadap sesama itu luar biasa.
9. Yang kuat bukannya menjegal yang lemah, harusnya membantu yang lemah!
10. Kesombongan dan arogansi merupakan akhir dari segalanya.
11. Pengkhianatan lebih gelap dari pada semut di malam hari. Lebih buruk daripada bohong seribu kali. Lebih kejam daripada tamparan seribu kali.
12. Kemerdekaan ialah hak segala BANGSA!!
13. Tidak boleh ada diskriminasi agama, ras, sukubangsa!
14. Cinta bisa datang kapan saja

Jumat, 22 Mei 2009

apa cii SinEmaTogRafi ituw??

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari
bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmuyang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).
Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.


Tentang Sinematografi

Sejarah sinematografi sangat panjang, namun di sini tidak akan dibahas tentang “perjalanan” sinematografi dari awal. Kemajuan teknologi akan terus berkembang, demikian juga dengan teknologi sinematografi, sehingga kini dikenal dengan sinematografi digital. Kemajuan ini tentu saja akan lebih memudahkan para sineas dalam berkarya. Sebelum lebih lanjut membahas sinematografi, baiknya kita fahami dulu makna dari sinematografi itu sendiri. Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema gambar. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi disebut montase atau montage.

D.O.P

D.O.P atau Director of Photography adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Dia harus familiar dengan komposisi dan semua aspek teknik pengendalian kamera dan biasanya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang muncul selama perekaman film. D.O.P sangat jarang mengoperasikan kamera. Kerja D.O.P sangat dekat dengan sutradara untuk mengarahkan teknik pencahayaan dan jangkauan kamera untuk setiap pengambilan gambar. Itu adalah salah satu alasan utama kita untuk berusaha mendapatkan uang untuk menjadi entertain. Karena jika bukan untuk bakat dan pengetahuan sinematografer tidak ada jalan untuk membuat dunia kata-kata penulis kedalam gambar yang bisa dilihat oleh semua orang” demikian kata Sinematografer Michael Benson.

Banyak orang berpikir bahwa sutradara mengatur seorang aktor apa yang harus dia lakukan dan D.O.P mengambil gambar. Ini benar, tetapi ada banyak lagi proses selain hal tersebut. Perubahan dari script ke dalam layar lebar adalah melalui lensa seorang D.O.P. Pembuatan film adalah bekerja bersama dengan apa yang ada disana, dan memfilter apa yang ada disini melalui suatu alat yang disebut kamera. Sampai frame pertama digunakan, ini hanyalah sebuah kontrak, ide, konsep, script dan harapan.

Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru

Bekerja dengan Sutradara

Tanggung jawab utama dari D.O.P adalah untuk menciptakan jiwa dan perasaan dalam gambar dengan pencahayaan mereka. Tergantung kepada gaya sutradara, anda dapat memutuskan untuk memilih penampilan film anda sendiri, atau, biasanya setelah meeting dengan sutradara dan biasanya dilakukan bagian artistik yang anda pilih untuk mengatur teknik pencahayaan yang sesuai. Atau sutradara memiliki ide sendiri seperti apa bentuk film ini dan ini akan menjadi tugas D.O.P untuk memenuhi keinginan ini. Semua jalan kerja yang berbeda-beda ini hanyalah panduan yang menyenangkan dalam usaha untuk memenuhi harapan sutradara dan memberikan apa yang dia inginkan dan semoga memberikan kebanggaan dan kesetiaan seorang sutradara.

Sutradara dan sinematografer seharusnya secara konstan berdiskusi tentang angle kamera, warna, pencahayaan, blocking dan pergerakan kamera. Sutradara tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana dia mengerjakan ini biasanya tergantung kepada sinematografer. Sinematografer menawarkan ide dan menerima penolakan. Sutradara adalah kapten dari kapal. Seberapa banyak atau sebatas mana kolaborasi yang dia inginkan adalah keputusannya

Sinematografer Darius Khondji mengatakan ”Saya melihat pekerjaan saya adalah untuk membantu director dalam memvisualisasikan film. Ini akan menjadi proses yang terus-menerus, ada banyak hubungan dengan sutradarara tidak hanya sebatas profesional, sering kali menjadi teman dekat dalam kolaborasi kami.

Sebagai seorang manager, saya mempelajari banyak hal tentang bagaimana mengatur orang. Saya belajar bagaimana merencanakan dan apa peran penting sebuah tim. Saya belajar cara menangani lokasi, bekerja sebagai AD, mengendarai mobil, dan sebagian pertunjukan, bahkan sebagai pemegang kunci. Semua posisi adalah pelajaran yang tidak ternilai,” kata Neil Roach.

Salah satu pelajaran terpenting yang telah dipelajari Neil Roach sepanjang karirnya tentang pembuatan film adalah mengenai kolaborasi. “Saat anda bekerja dengan sutradara yang tepat, anda dapat menghasilkan kerja yang menakjubkan” Dia berkata, “Tidak menjadi masalah dengan sutradara, yang harus anda lakukan adalah anda bekerja yang terbaik. Karena tugas alami seorang kameramen adalah selalu berkata ‘tidak’. Tidak, anda menginginkan terlalu banyak cahaya. Atau ‘tidak’ anda tidak dapat melakukan ini dan itu. Dalam hati, saya selalu menggambarkan ini untuk menyenangkan diri saya sendiri, dan memperoleh apa yang saya inginkan pada waktu yang sama, memberikan pegawai apapun yang mereka inginkan.”

Sebagai seorang kepala departemen senior, D.O.P diharapkan dapat menjadi contoh keseluruhan unit. Sering kali hanya individu dari sinematografer yang bekerja sebatas kualitas fotografi saja. Ketepatan waktu, perilaku kru, pakaian, kesopanan semua menjadi satu, setidaknya bagian dari D.O.P sehingga mereka menetapkan standar profesional untuk setiap kru. D.O.P bertangung jawab untuk semua hal yang berkaitan dengan fotografi pencahayaan film , exposure, komposisi, kebersihan, dll, yang semua itu adalah tanggung jawab mereka

Operator kamera memainkan peran yang terpenting dalam membuat film dengan sutradara. Seorang operator pemula akan tidak percaya diri dengan sutradara. Ada segitiga sutradara, kamera (dan operator) , serta aktor” Michael Benson menjelaskan “Saat segitiga tersebut rusak, jalur komunikasi juga akan rusak. Ini dapat menjadi berbagai bentuk, tetapi segitiga tersebut adalah hal terpenting dari film dan pencerita dapat berafiliasi dengan ini. Operator adalah orang yang tahu jika suatu pengambilan sudah fokus. Saat ini ada suatu kesalahan bahwa teknologi dapat membetulkannya. Tetapi jika pengambilan tidak fokus, tidak ada teknologi yang dapat merubah supaya fokus”

Grip

Grip bertanggung jawab pada dolly track dan semua gerakan yang dilakukannya. Dia juga bertanggung jawab untuk memindahkan tripod untuk setup selanjutnya: focus puller biasanya bersama dengan kamera. Salah satu hal terpenting adalah kamera tidak boleh dipindahkan saat dia masih berada di tripod. Grip juga bertanggung jawab terhadap gedung, atau mengatur gedung, mengawasi gedung, setiap konstruksi yang diperlukan untuk mendukung jalur atau pergerakan kereta supaya bisa berjalan. Tingkat dan kerataan kerja dorongan track adalah kunci sukses pengambilan gambar. Perawatan jalur dolly dan peralatannya adalah tugas grip. Mereka akan sering membangun atau membuat beberapa hal kecil untuk memperbaiki kamera di hampir setiap objek

Gaffer

Gaffer adalah seorang kepada elektrik dan akan bekerja langsung dengan D.O.P. Beberapa D.O.P akan menentukan bentuknya dan pintu gudang dan yang tidak dia inginkan- ini tergantung kepada bagaimana mereka ingin bekerja bersama, Sering D.O.P akan dekat dengan gaffer daripada anggota kru lain. Mereka sangat vital untuk kesuksesannya

Sejak pertama kali sinematografer Ward Russell “naik“ menjadi Director Photography, dia memberikan nasihat kepada gaffernya “Saya selalu memberitahukan kamu bahwa kamu dapat belajar dari bayangan daripada dengan melihat cahaya Anda dapat mengatakan arah, kelembutan, intensitas, dan perbandingan kepada bayangan. Bayangan memberikan kamu kontras dan kontras yang memberikan kamu bentuk dan drama. Exposure saya selalu sesuai, tidak lebih, seberapa detail saya ingin melihat dalam bayangan sama dengan seberapa terang saya ingin dari cahaya. Untuk saya, sekali anda memiliki titik yang tepat untuk cahaya, proses kreatifnya adalah seberapa banyak cahaya yang dapat anda ambil

Kamera Film

Manusia telah dibohongi oleh film selama berabad-abad. Salah satu alasannya adalah oleh satu peralatan kecil sederhana (yang juga merupakan peralatan dasar sinematografer), kamera film, untuk merekam langsung dari imaginasi kita. Hal pokok dari kamera film adalah beberapa kotak, salah satunya dengan lensa di depan dan mekanisme yang dapat ditarik sesuai dengan lama film setidaknya enam belas kali setiap detik

Hal lainnya memiliki panjang yang sesuai untuk mekanisme film, dengan ruang yang tersisa untuk mengambil gambar setelah exposure. Saat gambar-gambar dari alat ini diproyeksikan oleh mekanisme yang sesuai, mereka memberikan representasi dari scene asli dengan semua pergerakannya yang ada didalamnya untuk ditampilkan dengan benar.

Bagian mesin yang sangat tepat ini memiliki sejumlah fungsi, yang masing-masing memerlukan pemahaman dan perawatan, dari kamera untuk tetap menghasilkan yang terbaik dan konsisten. Seorang kameramen pemula harus mencoba untuk familiar dengan itu semua dan nyaman dengan pengoperasian kamera, sehingga dia dapat berkonsentrasi untuk aspek kreatif dari cinematography. Pergerakan mekanisme film adalah berbeda dengan kamera saat hanya sebagai sebuah kamera. Ilusi dari pergerakan gambar diciptakan oleh pergantian fotografi yang cepat

Menghasilkan gambar yang bergerak cepat dengan panjang tertentu dari gambar yang ada adalah yang menjadi perhatian dari pandangan manusia. Jika gambar dipancarkan ke retina, mata manusia akan melihat gambar, singkatnya, secara keseluruhan dan seterusnya, untuk periode yang singkat, gambar akan tetap berada di dalam manusia saat menjadi redup atau menghilang.

Jika gambar kedua ditembakkan ke retina manusia akan dapat melihat dua gambar yang berkelanjutan tanpa ada sorotan yang pertama.. Proses flashing gambar yang berkelanjutan ini akan membuat otak menganggap tidak ada jarak antara dua gambar tersebut dan pergerakannya lembut. Laju flashing gambar ke mata adalah sepuluh flash setiap detiknya, dalam laju ini efek kedip akan tidak terasa. Hanya di sekitar enam belas atau delapan belas gambar baru per detik yang menyebabkan pergerakan dianggap sebagai suatu pergerakan yang dapat diterima dan efek kedip dapat dikurangi sampai ke titik yang dapat diabaikan.

Seiring pergantian abad, laju frame menjadi 18 frame per detik (fps) menjadi sesuatu yang umum. Saat ini baik kamera dan proyektor masih dengan tuas tangan dan memiliki kecepatan 2 putaran per detik yang akan menghasilkan laju frame, yang sangat nyaman.

Sabtu, 16 Mei 2009

Shott..

Berikut adalah contoh dari pergerakan dalam sebuah plot, berikut kombinasi antar keduanya. Namun
sebelumnya, perlu halnya untuk lebih mendalami shot-shot yang lazim digunakan dalam sebuah film.
Yang mana penjelasan ini meliputi ukuran, angle, dan fungsi daripada shot-shot tersebut. Berikut
kita mulai dari ukuran shot.

1. LONG SHOT
Jarak pengambilan yang cenderung luas. Menampilkan
situasi dengan fokus subyek yang lebih kecil. Dominan pada suasana yang mewakili plot cerita dalam
sebuah Scene. Subyek disini hanya sebagai indikasi keberadaannya pada sebuah situasi. Fungsi pada
plot adalah sebagai penunjukkan waktu dan lokasi.
2. MEDIUM LONG SHOT
Menunjukkan eksistensi
subyek pada sebuah situasi. Masih dominan pada suasana. Namun, subyek mulai diberi sedikit
identitas. Fungsi pada plot adalah untuk menunjukkan hubungan antara subyek dengan situasi di
dalamnya.
3. FULL SHOT
Ukuran subyek dalam sebuah frame, dari ujung kaki hingga kepala.
Berfungsi sebagai pengenalan sebuah karakter dalam cerita.
4. MEDIUM SHOT
Ukuran subyek dari
pusar hingga kepala. Fungsi pada plot adalah sebagai penunjukkan aktifitas.
5. MEDIUM CLOSE
Ukuran subyek dalam frame dari dada hingga kepala. Berfungsi sebagai penekanan
dialog, ataupun karakter.
3. CLOSE
Ukuran subyek dari leher hingga batas atas
kepala. Berfungsi sebagai penekanan karakter, dialog dramatik, ataupun respon terhadap sebuah
situasi.
4. BIG CLOSE
Ukuran subyek dari batas dagu hingga batas atas kepala.
Berfungsi sebagai penekanan karakter, atau respon/reaksi terhadap sebuah situasi dramatik. Hampir
sama dengan Close-Up, hanya saja lebih mendalam dalam penunjukkan karakternya.
5. EXTREME CLOSE
Ukuran subyek pada satu anggota/bagian tubuh. Berfungsi sebagai indikasi khusus
tentang sebuah aktifitas, ataupun reaksi yang sedang dilakukan.
6. VARIASI SHOT
Sebuah
pengambilan gambar tanpa adanya subyek/tokoh di dalamnya. Ada beberapa type Variasi Shot yang sering
digunakan dalam sebuah film, antara lain;
Ada beberapa gerakan kamera yang sering digunakan, yaitu;
- ZOOM IN/OUT
Mendekatkan fokus
perhatian subyek/obyek (IN), dan menjauhkan fokus perhatian subyek/obyek (OUT).
Efek dari Zoom
In/Out ini pada layar adalah, seperti kita mengamati sebuah benda, lalu kita berjalan mendekatinya,
ataupun menjauhinya.
- PAN
Putaran horizontal kamera dari titik tertentu.
Efek dari Pan ini
pada layar adalah, seperti kita dengan pelahan berputar di satu titik. Pandangan mata akan menyebar
ke seluruh ruangan, atau mengikuti sebuah benda/obyek yang bergerak.
- TILT
Putaran Vertical
kamera dari titik tertentu.
Efeknya dari Tilt ini pada layar adalah, seperti kita memandang
sesuatu sambil menggerakkan kepala dan pandangan mata dari atas ke bawah, atau
sebaliknya.

- TRACK/DOLLY
Hasil dari gerakan seluruh kamera. Tidak terpancang di satu titik
posisi.
Gerakan ini dihasilkan melalui berbagai cara. Antara lain dengan mengkaitkan kamera pada
sebuah tiang (Jimmy Jib), atau juga menaikkan kamera di sebuah kereta dorong (Dolly).
Efeknya pada
layar adalah, hampir sama dengan Zoom In/Out. Hanya saja, gerakan yang dihasilkan lebih realistis,
karena dilakukan secara manual, yaitu mendekatkan kamera pada obyek maupun Subyek. Dan pemotretannya
yang tidak dilakukan di satu titik membuat penonton seakan ikut mengembara dalam pemandangan yang
dihasilkan.
Gerakannya fleksibel, tergantung dengan konsep ataupun plot yang dimainkan. Pada Dolly,
Track bisa dilakukan ke depan, belakang, kiri, kanan, maupun berputar. Sedangkan pada Jimmy Jib,
selain sama dengan Dolly, gerakan bisa dilakukan dengan lebih variatif. Yaitu ke atas, kebawah,
maupun mengibas

angle kamera

Establishing Shot
Sebuah penggambaran suasana ataupun situasi. Biasa digunakan untuk opening,
maupun clossing. Establishing juga sering digunakan sebagai permulaan sebuah babak baru, yang
dihadirkan melalui Optical berupa Fades maupun Dissolve. Keberadaannya berfungsi sebagai penunjukkan
waktu dan lokasi. Misalkan, sebuah rumah, malam hari.

- Beauty Shot
Sebuah pengngambaran obyek
yang bertujuan untuk memperindah adegan. Hampir sama dengan Establishing, hanya saja dalam Beauty
Shot obyek yang ditampilkan lebih berfungsi untuk memperindah frame. Memanjakan mata penonton dan
memberikan informasi secara tidak langsung. Misalkan, Close-Up sebuah bunga sakura.

Untuk lebih
memperdalam Shot, tentunya kita juga harus memahami angle/sudut pengambilan gambar (Shot) yang biasa
digunakan. Pada prinsipnya, ada 3 angle kamera yang digunakan untuk menggambarkan sebuah karakter.
Yaitu;

1. EYE LEVEL
Pengambilan gambar, dengan posisi kamera sejajar dengan subyek. Dalam
sebuah dialog, pengambilan dengan angle ini untuk menujukkan kesejajaran antara tokoh satu dengan
yang lain.
2. HIGH LEVEL
Pengambilan gambar, dengan posisi kamera lebih diatas, daripada subyek.
Dalam sebuah dialog, maupun adegan, posisi ini bertujuan untuk menggambarkan subyek yang lemah,
tidak berdaya.
3. LOW LEVEL
Pengambilan gambar, dengan posisi kamera dibawah subyek. Dalam sebuah
dialog maupun adegan, posisi ini bertujuan untuk menggambarkan subyek yang kuat, angkuh, dan lebih
berkuasa.

About Sinematografi

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari bahasa Latin kinema ‘gambar’. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang tekhnik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama, maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sadangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan tekhnik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).

Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi. Berikut dibawah akan memperjelas perihal istilah film.

MEDIA AUDIO विसुअल

Medium yang menggunakan perekaman visual dan audio sebagai media ekspresi, baik sebagai ungkapan artistic maupun penyampaian fakta-fakta ke public.

FILM

Film merupakan cerita atau adegan per adegan yang direkam melalui kamera film (kinescope) dalam pita film (seluloid) yang diproyeksikan di atas bidang putih dalam ruang gelap (sinema / teater).

VIDEO

Penemuan tekhnologi perekam video adalah sebuah usaha dalam mengatasi kerumitan dalam pembuatan sebuah film. Video memberikan kemudahan secara ekonomis dalam memproduksi karya audio visual. Perekam audio hadir dengan kemungkinan merekam ke pita magnetic analog yang dapat merekam gambar dan audio dalam waktu bersamaan. Video juga memberikan fitur instant playback, dimana hasil perekaman yang sudah kita buat dapat langsung kita lihat hasilnya secara langsung tanpa proses pencucian film dalam seluloid.

MACAM-MACAM FILM

  • FIKSI

  • NON-FIKSI (DOKUMENTER)

  • DOKUMENTASI

  • DOKUMENTER

JENIS DOKUMENTER

  • Dokumenter Edukasi

  • Dokumenter Testimoni

  • Dokumenter Feature

  • Dokumenter Infestigatif

  • Dokumenter Subjektif

PEMBUATAN DOKUMENTER

  • Dokumenter dibuat berdasarkan data pasti

  • Proses awal pembuatan sebuah documenter berpijak pada asumi

  • Mengejar momen

  • Improvisasi sangat mungkin terjadi di lapangan

  • Menangkap dan mengemas realitas

PRA PRODUKSI

  • Penentuan ide

  • Pengolahan ide

  • Penulisan dan penyusunan scenario documenter

ABSTARKSI

Penggambaran keseluruhan ide film dalam 2 atau 3 kalimat (teks)

STRUKTUR BERCERITA

Penggambaran keseluruhan ide film dalam 1 tulisan pendek, menyangkut aspek-aspek :

  • Lokasi

  • Tata kamera

  • Metode pendekatan (menggunakan narasi, wawancara, dsb)

  • Adakah footage dari sumber lain yang akan di pakai ?

Pengumpulan naskah setelah pengumpulan data hasil riset

  • Kemungkinan naskah akan berubah.

  • Naskah Asumtif dapat menjadi Naskah Analisis

Tim Produksi

  • Pimpinan Produksi : Menjaga keseluruhan Produksi

  • Sutradara : Memiliki otoritas penuh terhadap keseluruhan ide film

  • Penulis naskah / Periset : Melakukan riset lengkap mengenai ide film dan menuangkannya ke dalam sebuah naskah

Sutradara

  • Kamerawan : Menuangkan semua ide film dalam bentuk gambar dan pencahayaan

  • Perekam suara : Menuangkan semua ide audio dalam film termasuk dip roses paska produksi (bekerja sama dengan editor)

  • Editor (Pasca produksi) : Bertanggung jawab semua penyusunan semua materi audio dan visual yang sudah ada ke dalam bentuk film yang diinginkan

Produksi

  • Pengambilan gambar dan suara sesuai naskah.

Pasca produksi

  • Mengkongkritkan ide menjadi produk melalui editing

PASCA PRODUKSI DAN TEKNIK PRODUKSI

KAMERA

Pemilihan kamera akan sangat berpengaruh dalam produksi gambar yang akan di hasilkan. Kamera di bagi dua menurut material yang dipakai :

  • Kamera seluloid, memakai bahan film seluloid, dimana obyek dipantulkan melalui cahaya dan direfleksikan ke dalam plat seluloid (fotografi)

  • Kamera video, memakai material digital, dimana obyek dipantulkan oleh cahaya dan terekam oleh pita magnetic yang ada dalam kaset video, semakin bagus kamera yang dipilih, semakin baik gambar yang di hasilkan.

Angle Kamera

  • Angle Kamera Obyektif

  • Angle Kamera Subyaktif

Angle Kamera didefinisikan sebagai wilayah dan titik pandangan yang direkam oleh lensa. Ada tiga factor yang menentukan angle kamera ;

  • Ukuran subyek

  • Angle dari subyek, dan

  • Tinggi kamera

Pasca Produksi

Selama tahap pasca produksi umumnya ada tiga tugas yang berlangsung kurang lebih secara bersamaan :

  • Mixing suara dan “looping”

  • Editing

  • Efek khusus

Editing

Editing film bisa diperbandingkan dengan memotong, mengasah dan menyunting berlian। Berlian yang masih dalam bentuk bongkahan tidak bisa dikenali. Bongkahan itu harus dipotong dulu, diasah dan disunting dengan ikatan agar keindahan yang dimilikinya dapat dihargai sepenuhnya.

Dokudrama

Dokudrama

Pada perkembangannya, muncul sebuah istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi. Dokumenter Modern

Para analis Box Office telah mencatat bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth. Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.

Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger & Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda.[1] Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.

Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut mempengaruhi para pengusaha penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka.[2]

Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang menyajikan proses produksi suatu Film atau video game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat kepada iklan daripada dokumenter klasik.

Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.

Bentuk Dokumenter Lainnya

Film Kompilasi

Film kompilasi dicetuskan pada tahun 1927 oleh Esfir Shub dengan film berjudul The Fall of the Romanov Dynasty. Contoh-contoh berikutnya termasuk Point of Order (1964) yang disutradarai oleh Emile de Antonio mengenai pesan-pesan McCarthy dan The Atomic Cafe yang disusun dari footage-footage yang dibuat oleh pemerintah AS mengenai keamanan radiasi nuklir (misalnya, memberitahukan pada pasukan di suatu lokasi bahwa mereka tetap aman dari radiasi selama mereka menutup mata dan mulut mereka). Hampir mirip dengannya adalah dokumenter The Last Cigarette yang memadukan testimoni dari para eksekutif perusahaan-perusahaan tembakau di depan sidang parlemen AS yang mengkampanyekan keuntungan-keuntungan merokok.

Membuat Film Dokumenter?!


Membuat film bukanlah suata hal yang sulit. Jika kita ingin membuat film, maka kita harus lebih dulu tahu pengertian film dan jenis apa yang akan kita buat. Cara membuat film dokumenter yang ditulis oleh Fajar Nugroho dalam bukunya ini dapat membimbing kita dalam proses pembuatan film dokumenter. Kurangnya minat masyarakat kita terhadap film dokumenter karena film dokumenter dahulunya mengunakan topik yang kaku dan tidak menghibur penonton.

Dalam membuat film dokumenter yang kita rekam harus berdasarakan fakta yang ada. Jadi film dokumenter adalah suata film yang mengandung fakta dan subjektivitas pembuatnya. Artinya apa yang kita rekam memang berdasarkan fakta yang ada, namun dalam penyajiannya kita juga memasukkan pemikiran-pemikiran kita.

Dalam membuat film dokumenter ada langkah-langkah dan kiat bagaimana film yag kita produksi disenangi oleh penonton dan tidak memakan biaya yang besar saat memproduksinya.. Langkah yang harus kita tempuh dalam membuat film dokumenter adalah pertama, menentukan ide. Ide dalam membuat film dokumenter tidaklah harus pergi jauh-jauh dan memusingkan karena ide ini bisa timbul dimana saja seperti di sekeliling kita, di pinggir jalan, dan kadang ide yang kita anggap biasa ini yang menjadi sebuah ide yang menarik dan bagus diproduksi. Jadi mulailah kita untuk bepfikir supaya peka terhadap kejadian yang terjadi.

Kedua, menuliskan film statement. Film statement yaitu penulisan ide yang sudah ke kertas, sebagai panduan kita dilapangan saat pengambilan Angel. Jadi pada langkah kedua ini kita harus menyelesaikan skenario film dan memperbanyak referensi sehingga film yang kita buat telah kita kuasai seluk-beluknya.

Ketiga, membuat treatment atau outline. Outline disebut juga script dalam bahasa teknisnya. Script adalah cerita rekaan tentang film yang kita buat. script juga suatu gambar kerja keseluruhan kita dalam memproduksi film, jadi kerja kita akan lebih terarah. Ada beberapa fungsi script. Pertama script adalah alat struktural dan organizing yang dapat dijadikan referensi dan guide bagi semua orang yang terlibat. Jadi, dengan script kamu dapat mengkomunikasikan ide film ke seluruh crew produksi. Oleh karena itu script harus jelas dan imajinatif. Kedua, script penting untuk kerja kameramen karena dengan membaca script kameramen akan menangkap mood peristiwa ataupun masalah teknis yang berhubungan dengan kerjanya kameramen. Ketiga, script juga menjadi dasar kerja bagian produksi, karena dengan membaca script dapat diketahui kebutuhan dan yang kita butuhkan untuk memproduksi film. Keempat, script juga menjadi guide bagi editor karena dengan script kita bisa memperlihatkan struktur flim kita yang kita buat. Kelima, dengan script kita akan tahu siapa saja yang akan kita wawancarai dan kita butuhkan sebagai narasumber.

Keempat, mencatat shooting. Dalam langkah keempat ini ada dua yang harus kita catat yaitu shooting list dan shooting schedule. Shooting list yaitu catatan yang berisi perkiraan apa saja gambar yang dibutuhkan untuk flim yang kita buat. jadi saat merekam kita tidak akan membuang pita kaset dengan gambar yang tidak bermanfaat untuk film kita. Sedangkan shooting schedule adalah mencatat atau merencanakan terlebih dahulu jadwal shooting yang akan kita lakukan dalam pembuatan film.

Kelima, editing script. Langkah kelima ini sangat penting dalam pembuatan film. Biasa orang menyebutnya dengan pasca produksi dan ada juga yang bilang film ini terjadinya di meja editor. Dalam melakukan pengeditan kita harus menyiapkan tiga hal adalah menbuat transkip wawancara, membuat logging gambar, dan membuat editing script. Dalam membuat transkipsi wawancara kita harus menuliskan secara mendetail dan terperinci data wawancara kita dengan subjek dengan jelas.

Membuat logging gambar ini maksudnya, membuat daftar gambar dari kaset hasil shuuting dengan detail, mencatat team code-nya serta di kaset berapa gambar itu ada. Terakhir ini merupakan tugas filmmaker yang membutuhkan kesabaran karena membuat editing scrip ini kita harus mempreview kembali hasil rekaman kita tadi ditelevisi supaya dapat melihat hasil gambar yang kita ambil tadi dengan jelas. Dengan begitu kita akan mebuat sebuah gabungan dari Outline atau cerita rekaan menjadi sebuah kenyataan yang dapat menjadi petunjuk bagi editor.

Dengan meneyelesaikan langkah di atas maka kita mecoba mencari sponsor untuk memutar film di khalayak umum. Jika sudah ada maka anda siap-siap jadi orang terkenal. Jadi sekarang tunggu apalagi bagi filmmaker pemula mulailah tunjukan bahwa karya kamu dapat dinikmati dan menarik untuk di tonton oleh semua kalangan.

Sabtu, 11 April 2009

RUNTUHNYA DOMINASI AGB NIELSEN MEDIA RESEARCH


Kecaman, hujatan, kritikan terhadap rating televisi memang tidak akan pernah berhenti. Salah satu kecaman serius terhadap rating televisi, seperti yang pernah dikemukakan oleh pakar komunikasi politik UI sekaligus sebagai penasehat kepresidenan Rebublik Baru Bisa Mimpi, Effendi Gazali Ph.d (KOMPAS, Jumat, 29 September 2006) adalah sumbangsih rating televisi terhadap matinya akal sehat para pelaku industri televisi nasional. Rating yang seharusnya menjadi pelayan malah mengambil posisi sebagai majikan, program-program televisi nasional seperti kerbau dicucuk hidung melenggak-lenggok mengikuti tren rating! Walhasil bertebaranlah program-program rendah mutu penumpul intelektualitas pemirsa televisi.

Namun para pelaku industri televisi selalu berkelit terhadap kecaman tersebut dengan alasan klasik, kami tidak punya pilihan! Rating televisi dianggap sebagai satu-satunya instrumen ilmiah untuk mengukur tingkat popularitas sebuah program televisi. Semakin populer sebuah program televisi semakin besar pula peluangnya dilirik oleh pengiklan, yang juga berarti peluang besar fulus mengalir deras. Predikat “satu-satunya” tidak hanya disematkan pada instrumen, tapi juga pada penyelenggara rating televisi itu sendiri, yaitu AGB Nielsen Media Research. Lembaga riset multinasional, pemimpin pasar global di industri riset. Bertahun-tahun lamanya Nielsen menjadi penyedia tunggal data rating televisi di seantero dunia, nyaris tak berlawan. Roy Morgan, sebuah perusahaan riset berbasis di Australia sudah berupaya menggemingkan sang “diktator” dengan semangat juang 45 mengkampanyekan metode single source, namun sepertinya tetap tak mampu merebut dan menarik perhatian pelaku industri media dan periklanan.

So, sampai kapan status quo ini akan berlangsung? Sepertinya tidak akan lama! Dominasi Nielsen atas rating televisi akan segera runtuh. Alkisah lembaga riset multinasional yang termasuk dalam 20 besar perusahaan riset di Amerika, Taylor Nelson Sofres bekerja sama dengan TiVo berencana menyelenggarakan pengukuran rating televisi dengan jumlah sampel lebih dari tujuh kali lipat jumlah sampel Nielsen. Saat ini di Amerika, Nielsen menghasilkan rating televisi dari sekitar 14.000 rumah tangga. TNS dan TiVo merencanakan sekitar 100.000 rumah tangga! Jumlah sampel yang maha besar ini menurut pihak TNS membuat data lebih representatif, sehingga dapat menghadirkan informasi lebih dalam mengenai stasiun-stasiun “kecil” yang selama ini cenderung terabaikan. Selain itu, TNS juga mengklaim akan mengukur data kepemirsaan dalam satuan detik alih-alih Nielsen dalam satuan menit.

Lalu apakah rating televisi versi TNS lebih sempurna dari versi Nielsen? Sepertinya tidak, rating televisi versi TNS tetap tidak mampu mendeteksi fenomena TV ritualism. Ritual yang menjadikan televisi hanya sekedar teman pendamping ketika melakukan aktivitas utama, mengetik di depan komputer, mencuci piring atau teman pengantar tidur. Ya, memang tidak ada metode yang sempurna, tapi paling tidak kehadiran rating televisi versi TNS dan TiVo ini bakal membuat persaingan riset kepemirsaan lebih fair.

Sabtu, 28 Maret 2009

Perkembangan Televisi di Indonesia

TELEVISI (TV) yg sering disebut sbagai kotak ajaib, telah memberi pengaruh (negatif & positif) bagi kehidupan umat manusia. Televisi dengan kekuatannya menciptakan dunia yang tidak berjarak. Olehnya, dominasi wilayah dlm ranah politik menjadi tidak bermakna apa2. Walau tak berada di Amerika, kita bisa menyaksikan riuhnya suasana politik di sana tanpa ada yg bisa melarang. Berkat TV, kita sperti memiliki ikatan kultural dan bersimpati dgn salah seorang calon presiden di Amerika, hanya karena yg bersangkutan pernah menetap di Indonesia.


TV juga menjadi tutor yg andal dlm membentuk watak & perilaku manusia. Anak kecil yg tidak tahu cara berkelahi karna sering melihat acara gulat di TV jadi mahir ketika berkelahi dgn temannya. TV juga mampu menghipnotis ksadaran pemirsa sehingga terlupa dari kenyataan yg dialaminya. Anggota masyarakat yg sedang didera rasa lapar ketika berpuasa seolah lupa ketika menyaksikan infotainment di TV. Itulah berbagai kekuatan yg TV miliki. TV menjadi bagian yg tak terpisahkan dari khidupan umat manusia di dunia.

TV di Indonesia

Indonesia patut bersyukur pernah dipimpin seorang pemimpin yg visioner, sang penyambung lidah rakyat. Dialah putra sang fajar, Soekarno. Di bawah kepemimpinannya, upaya pengenalan & memasyarakatkan TV sbagai jendela informasi mulai dikembangkan. Projek ini dimulai ketika Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV. Pembangunan stasiun TV berikut pemancarnya dilakukan untuk meliput kegiatan tsb. Tanggal 25 Juli 1961 merupakan momen bersejarah. Menteri Penerangan atas nama pemerintah mengeluarkan SK Menpen No.20/SK/M/1961 tentang Pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T). Inilah cikal bakal berdirinya TVRI di Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1962, TV negara yg kmudian bernama TVRI mulai mengudara untuk yang pertama kalinya. Siaran pertama kali ini diisi dgn siaran percobaan dari halaman Istana Merdeka Jakarta yg meliput acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yg ke-17. Pada 24 Agustus 1962, TVRI bersiaran secara resmi & siaran yg dipancarluaskannya adalah siaran langsung upacara pembukaan SEA Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno. TVRI kemudian disempurnakan badan hukumnya oleh negara dgn menerbitkan Keppres No.215/1963 tentang Pembentukan Yayasan TVRI dgn Pimpinan Umum Presiden RI, tanggal 20 Oktober 1963.

Selanjutnya, Orde Baru bertekad menciptakan pembangunan ekonomi yg kuat & kehidupan politik yg terkontrol. TVRI di bawah kekuasaan orde ini ditempatkan menjadi mikrofon penyampai aspirasi pemerintah. Acara yg ditayangkan TVRI harus disesuaikan dgn norma, kehendak & sistem nilai yg diproduksi rezim. Walaupun di permukaan kehidupan tampak tenang, di balik itu sesungguhnya rakyat merasa tertekan. Ketenangan yg tampak merupakan ketenangan yg dihasilkan dari teror. Seniman yg bisa muncul di layar TVRI hanya seniman yg berafiliasi scara politik dengan rezim. Bagi yg berseberangan jangan harap bisa muncul di TVRI. Kita mungkin masih ingat dgn kasus pelarangan Rhoma Irama bernyanyi di TVRI.

Di akhir ’80-an, ketika projek modernisasi yg diterapkan rezim mulai menampakkan hasil, di Indonesia mulai byk anggota masyarakat yg terdidik, hal ini telah memunculkan lapisan baru di masyarakat Indonesia, yakni kelas menengah. Kelas ini mulai merasa jenuh dgn tayangan yg diproduksi TVRI yg menjadi partisan rezim. Kelas ini mulai menuntut keberagaman isi.

Pemerintah mengakomodasi keinginan publik yg disuarakan kelas menengah ini. Pada 28 Oktober 1987, pemerintah melalui Departemen Penerangan c.q. Direktur Televisi/Direktur Yayasan TVRI memberikan izin prinsip kepada RCTI untuk memulai siaran dgn No.557/DIR/TV/1987. Itu pun harus menggunakan dekoder. Baru pada 1 Agustus 1990 dgn izin prinsip Dirjen RTF No.1217D/RTF/K/VIII/1990, RCTI bersiaran tanpa dekoder.

Di Surabaya, pemerintah juga memberi izin kepada SCTV. Izin prinsip kepada SCTV diberikan Departemen Penerangan c.q. Dirjen RTF dengan No.415/RTF/IX/1989.

Pemerintah memberikan izin kpada TPI pada 1 Agustus 1990 dengan izin siaran nasional. Izin prinsipnya dikeluarkan Departemen Penerangan c.q. Dirjen RTF dengan No.1271B/RTF/K/VIII/1990. TPI dalam memancarluaskan siarannya memanfaatkan antena transmisi & fasilitas yg dimiliki TVRI di daerah. Itu karna TPI merupakan TV yg dikelola Siti Hardiyanti Rukmana/biasa disapa Mbak Tutut.

ANTV ikut meramaikan siaran TV Indonesia sejak diberikan izin prinsip No.2071/RTF/K/1991 pada 17 September 1991. Siarannya dimulai di Lampung. Baru pada 30 Januari 1993, dgn izin prinsip Departemen Penerangan c.q. Dirjen RTF No. 207RTF/K/I/1993 Anteve bersiaran scara nasional.

Sementara itu, Indosiar mengudara dgn izin prinsip dari Departemen Penerangan c.q. Dirjen RTF dengan No. 208/RTF/K/I/1993, sbagai penyesuaian atas izin prinsip pendirian No.1340/RTF/K/VI/1992, tanggal 19 Juni 1992.

Shingga pada 1992, ada lima TV yg bersiaran nasional. Barulah pada 1998 pemerintah melalui Keputusan Menteri Penerangan No. 84/SK/Menpen/1998 mengizinkan berdirinya lima TV baru, yakni Metro TV, Lativi, TV7, Trans TV & Global TV.

Walaupun pemerintah mengizinkan pendirian TV swasta, bukan berarti siapapun dibebaskan untuk memilikinya. Yg bisa menjadi pemilik TV tetaplah mereka yg menjadi bagian dari klik kekuasaan. Barulah ketika reformasi terjadi di Indonesia pada 1998, benteng pertahanan rezim jebol. TV beramai-ramai menyuarakan aspirasi masyarakat & menguliti kebusukan rezim.

TV di masa reformasi

Jatuhnya Soeharto berikut orde yg dibangunnya telah membawa perubahan besar di dunia pertelevisian Indonesia. Yg berkuasa atas siaran TV bukan lagi pemerintah & aparatusnya tetapi bergeser ke pemilik modal. Merekalah yg menentukan format dan isi siaran yg akan ditayangkan TV. Para pemilik modal ini berorientasi pada akumulasi modal & cenderung abai pada kepentingan publik. Mereka tak pernah mau peduli apakah siaran yg diproduksi TV bermanfaat/tidak, yg penting bagi mereka siaran itu menghasilkan uang.

Tidak hanya itu. Pada masa reformasi, terjadi pertumbuhan TV di daerah yg begitu pesat, yg disebut TV lokal. Pertumbuhannya merata di berbagai daerah. Di Jawa Timur ada JTV. Di Medan ada Deli TV. Di Bandung ada Bandung TV, Padjadjaran TV, dan STV. Di Bali ada Bali TV. Di Batam ada Batam TV. Di Makassar ada Makassar TV. Ini semua terjadi karna adanya demokratisasi penyiaran & demokratisasi pengelolaan frekuensi. Pemilik TV tidak lagi menjadi dominasi klik istana tetapi telah menyebar ke berbagai klompok ekonomi di masyarakat. Dgn adanya fenomena ini keberagaman isi menjadi ada.

Pada masa reformasi, muncul desakan kuat dari masyarakat di daerah yang menuntut kedaulatan daerah di ranah penyiaran. Desakan itu mewujud pada tuntutan agar TV menjadi berjaringan, tidak lagi sentralistik dan dikendalikan dari Jakarta. Pemerintahpun mengakomodasi keinginan ini. UU No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran menjadi penanda kemenangan publik. Dlm UU ini, tak lagi dikenal istilah TV nasional, yg dikenal adalah TV local/TV berjaringan. Nah, bgaimana perkembangan TV di Indonesia selanjutnya? Kita tunggu & saksikan bersama. Sejarah yg akan mewartakan pada kita bgaimana perkembangannya

17 September 2008 by Hernoe